Thursday, November 07, 2013

Masuk Neraka Siapa Takut

Oh iya sekarang zamannya suku-sukuan nggak? Nggak kan…kita Berbhinneka Tunggal Ika tak ada perbedaan suku, agama, ras, budaya buat kita. Kita ini satu. Sebelum bercerita panjang lebar, kenalkan dulu aku adalah seorang istri, usia 25 tahun, sudah menikah 1,5 tahun dan masih belum dikarunia anak (berharap tahun ini aku bisa hamil). Aku bekerja, suami juga bekerja. Aku dan  suami berasal dari Pulau Madura yap lebih tepatnya kami suku Madura. Aku tinggal di ujung barat kota Surabaya, tempat tinggal masih nyicil kurang lebih 13 tahun lagi baru lunas.

Oke aku mulai bercerita. Aku hidup bermasyarakat, aku punya tetangga, aku harus hidup bersosialisasi dengan mereka dengan cara ikut pengajian, arisan PKK, dan lain-lain. Aku sangat menghormati tetangga-tetangga diperumahan, karena saudara terdekatku sekarang adalah tetangga. Mana mungkin jika aku atau suami sakit harus minta tolong pada keluarga kami yang ada di Madura sana. Tidak mungkin kan, dan yang membantu pertama kali adalah para tetangga kita. So, berbuatlah baik pada tetangga.

Tapi aku tahu. Tak semuanya tetangga berhati baik, berhati ikhlas, berhati jujur. Subhanallah macam-macam orang diciptakan untuk saling melengkapi oleh Allah. Ada yang iri, ada yang temperament, ada yang salah dikit langsung nggak bertegur sapa. MasyaAllah ada-ada saja ya.

Memang aku jarang sekali berkumpul dan ngobrol dengan tetangga dikarenakan aku bekerja, pulang kerja aku capek banget, biasanya aku langsung tidur. Bayangkan berangkat pagi pulang malam dan saat kami berangkat atau pulang tidak ada tetangga yang keluar rumah. Mereka berkumpul dengan keluarganya masing-masing dirumahnya.

Bermula dari pulang kerja, aku sempatkan menyirami tanaman-tanaman walau badan terasa capek. Seorang ibu keluar dari rumahnya dan mengajakku ngobrol. Alhamdullah, tetanggaku baik, mau bertegur sapa denganku. Ibu itu kemudian tanya-tanya.

“Sudah punya anak mbak? Kerja dimana? Suami kerja dimana? Wah pasti banyak ya gajinya? kan suami istri pada kerja semua”.

“Iya Bu, Alhamdulillah” sambil tersenyum. Lalu ibu itu melanjutkan cerita keluarganya.

“Anak saya yang pertama SMA kelas 3 mbak, hampir lulus, bingung mau ngelanjutin apa nggak nantinya. Yang adeknya masih kelas 5 SD. Biaya sekolah mahal mbak, bapaknya cuma satpam dan saya buka toko dirumah. Uang pas-pasan mbak yang ada malah banyak hutang”.

Aku terus mendengarkan ibu itu bercerita, dan sampai ke topik yang membuat telingaku rada risih.

“Kalo orang depan itu mbak banyak kucingnya, geli saya, orang Madura kayaknya, cuciannya ditaruh diluar ya, nggak rapi banget, rumahnya juga jarang dipel kotor, kayaknya jorok. Kalau orang Madura itu kayak gitu mbak, semuanya pada jorok”.

Aku langsung kaget mendengarkan ibu itu ngoceh kanan kiri #loh Bu aku orang Madura, cucian aku dulu juga pernah aku taruh depan rumah, tapi sekarang nggak karena aku sudah punya tempat cucian dibelakang (ngomong dalam hati).

Dan, ibu itu melanjutkan ceritanya lagi.

“Mbak di undang kumpul warga besok malam?”

“Iya bu”.

“Kok nggak koordinasi dulu ya ke kita-kita mbak. Disuruh bawa makanan 4 dus nasi ya mbak? Kalo saya nggak apa-apa mbak. Keluarga saya berjumlah 4, saya, suami, dan 2 anak saya. Lah kalo mbak kan cuma berdua. Terus yang 2 lagi buat siapa? Kan terbuang percuma kan mbak??? Gimana sih kok nggak dikoordinasikan dulu”.

Waduh, tambah pusing aku mendengarkan cerita ibu ini. Malah ceritanya diperpanjang lagi.

“Mbak, suaminya sering kumpul-kumpul ya sampai malam? Tetangga sebelah sakit gara-gara kumpul sama bapak-bapaknya sampai larut malam mbak. Wong angin malam loh nggak sehat, suami mbak juga ikutan kumpul ya?”.

Lah mulai ngurus urusan orang ini ibu. Udah ngomongin tetangga lagi. Dan akhirnya aku mohon pamit ke ibu itu. Dan, aku bercerita pada suami apa yang telah terjadi barusan. Suamiku menanggapinya dengan positif thinking.

“Ya sudahlah, ambil hikmahnya saja. Lagian menggunjing orang nggak baik. Semoga ibu itu lekas khilaf. Biarin saja yang penting kita berbuat baik ke tetangga, terserah tetangga mau bersikap apa ke kita. Kalau kita punya sesuatu, tetangga juga harus dikasih. Jangan dimakan sendiri, kita harus berbagi rezeki kepada orang lain juga. Masalah tetangga mau ngomongin si A, si B, si C, mendingan jangan ikut menanggapi, kalau bisa diingatkan kalo ngomongin orang itu nggak baik, dosa”.

Aku mengangguk, kemudian suami melanjutkan lagi.

“Lagian di dalam Al-Qur’an sudah jelas kalau orang yang suka ngomongin orang itu dosa. Di Q.S Al Hujurat ayat 12 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Wah, mantap sekali. Sepertinya untuk orang-orang seperti itu mungkin cocok diberikan gelar “Masuk Neraka Siapa Takut”. Soalnya sih, nggak ada habisnya yang menggunjing orang. Apa mereka nggak takut dosa ya? Nggak habis pikir aku pada tetangga-tetangga ini. Tidak hanya itu, sebenarnya aku juga diceritakan oleh tetanggaku sebut saja tetanggaku ini si B. Si B cerita kalau si A pernah ngomongin aku. Dia ngomong yang macam-macam tentang aku. Wah, kalo gitu si B juga sama donk suka ngomongin orang sama seperti si A. Aku juga nggak tau apakah yang diomongin si B ini benar atau tidak. Intinya, YA SUDAHLAH. Mereka ngomongin apa aja suka-suka mereka, yang penting aku tidak terpengaruh menggunjing para tetangga. Toh, ada yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Ngapain aku sibuk ngurusin urusan orang, urusan aku aja belum kelar-kelar. Terserah mereka juga, mau ngomongin suku. Terus kalau aku suku Madura napa? Nggak berhak hidup di tanah Jawa. Memangnya punya salah apa sih orang Madura, kok sampai segitunya dengan orang Madura? Apa mereka pernah berbuat jahat pada kalian? Terus karena hanya satu orang Madura yang berbuat jahat, semua orang Madura di cap salah semua?

Hello, kembalil lagi pada 4 pilar Negara kita ya, yang salah satunya “Walaupun berbeda-bada namun tetap satu jua” dan kembali lagi kalau menggunjing orang itu “dosa” ya. #ngoceh sendiri didepan suami

Kemudian suamiku mengajak sholat Isya’.

“Sudah-sudah, daripada Adik ngoceh sendiri mendingan kita sholat saja. Kita mohon pada Allah agar tetangga-tetangga kita bisa berubah, tidak saling menggunjing satu dengan yang lainnya. Mari kita do’akan mereka, kita juga berdo’a untuk kita sendiri agar kita termasuk golongan yang Khusnul Khotimah”.

Amiiien, aku bergegas ambil wudhu dan sholat Isya’ berjamaah dengan suami.


Related Posts

Masuk Neraka Siapa Takut
4/ 5
Oleh

18 komentar

alhamdulillah..terimakasih sudah berkenan berpartisipasi..artikelnya resmi terdaftar ya..
salam santun dari Makassar :-)

makasih Om ^_^

Salam kenal dari Surabaya ^_^

Ya,itulah hidup kadang diluar kendali kita mba.. tetep rukun-rukun aja dengan tetangganya..

iya mbak betul sekali,,,makasih ya mbak ^_^...salam kenal dari Surabaya

mungkin tetangganya udah kebingungan kali mbak, mau ngomongin apalagi kalau bukan ngomongin orang :D

Btw, aku juga lagi ngadain kuis kecil2n mbak diblog, mngkin berkenan buat ikutan..
http://raniisaputra.blogspot.com/2013/10/kuis-tebak-berhadiah-pulsa.html

iya,,bener dek,,,

dek ranii aku udah ikutan loh...masak belum terdaftar???

aku takut masuk neraka , , , :D
nyimak aja mbak , , ,

jangan lupa mampir di bog saya . . .

wihihi ngga cuma ibu-ibu yang doyan gosip, anak sekolah juga udah seneng ngegosip bu. apalagi ngomongi guru di belakang hahaha. mampir balik ya buuu :D. kalo mau follow2an juga boleh :p hehe

oke..siap meluncur mbak Asma Karimah ^_^

begitulah plus minusnya hidup bermasyarakat, pandai2 membawa dan menempatkan diri menjadi sebuah keharusan.
Salam kenal.

iya benar,,,selalu ada plus dan minus dalam bermasyarakat
Salam kenal juga dari SUrabaya ^_^

SOORRY NIH BOS ,ANE DARI JAKARTA , ANE BLOM PERNAH NEMUIN MADURA YANG BAEK2 , SEMUA YG ANE TEMUIN MADURA SETENGAH ANJIIING SEMUA, ORANGNYA LICIK ,AROGAN TENGIK TUKANG SEROBOT TANAH ORANG DAN JOOROKNYA AMMPPUUUN DAH , SEMUA JALAN2 UMUM DITUMPUKIN RONGSOKAN, KALO DI TEGOR BAEK2 MALAH NGANCAM 2 PAKE CLURIT ,... YANG LEBIH PARAH LAGI ...HAMPIR SEMUA ORANG MADURA SUKA BAWAIN SODARA2NYA DARI KAMPUNG, YANG RATA 2 SOK JAGOAN SEMUA ALIAS MAU NGUASAIN,,PANTES AJA DISAMPIT DI POTONG LEHERNYA ,ABIS UDAH SUPER KETERLALUAN,,,........ANE MOHON AMA ORANG MADURA ,,AGAR PRILAKUNYA DI UBAH SEDIKIT AJA ,ANE TAU RATA2 MEREKA GAK MAKAN SEKOLAHAN,, TAPI YANG NAMANYA KESABARAN KAN ADA BATASNYA.... ANE TAKUT PERISTIWA DI SAMPIT TERULANG DI JAKARTA....SOALNYA KEBENCIAN WARGA JAKARTA UDAH SAMPAI KE UBUN UBUN............MOHON MAAF JGN TERSINGGUNG ,,TAPI INTROPEKSILAH .........OKE'''''''....SALAM HANGAT... DARI TANJUNG PRIOK......

Wah...Ane Bisa Nemuin orang madura yang santun...salam kenal ya mbak...

Ane kaga benci sama orang Madura, apalagi Orang Madura Satu Aqidah Sama Ane,...

Ane Cuma Bingung...Kenapa banyak orang madura Di jakarta yang Perilakunya Kelewat Batas...

Semoga Ke depannya Orang Madura Harus Bisa Lebih Santun,,,Mbak Bisa Menjadi Inspirasi Untuk orang Madura Yang Masih berperilaku Buruk...

Maaf Ya Mba...

tp sebagai orang madura insyaallah saya tdk sperti itu bang..saya masih melihat norma sosial, agama, dan masih menghargai pendapat. tp setidaknya jangan ngeCAP orang madura sepeti itu semua..karena masih ada yg baik perilakunya..terima kasih...

Haiiii..salam kenal juga...
Senang sekali jika mbak/mas tidak mengeCAP orang Madura seperti itu..karena..orang Madura juga ada yg baik..berhati lembut dan memiliki sopan santun. Pastinya aqidah sesuai syariat..terima kasih banyak sudah mampir :)

Yuk berkomentar :)