Kenangan Ramadan Semasa Kecil Di Kampung Nenek

Memang benar, kenangan masa kecil itu sulit dilupakan. Otak manusia merekam dengan baik kenangan masa kecilnya, termasuk saya. Banyak kenangan suka dan duka yang saya alami semasa kecil. Namum saya akan menceritakan sukanya saja, dukanya biarkan saya saja yang tahu dan otak saya akan tetap merekamnya dengan baik.

Saya tinggal bersama kakek dan nenek dirumah yang sederhana dengan halaman yang sangat luas. Kini halaman itu semakin sempit karena sudah mulai dibangun rumah oleh beberapa pewaris kakek dan nenek. Halaman luas yang dulunya banyak sekali tanaman yang rindang. Pohon nangka, jambu air, jambu biji, beberapa jenis mangga, markisa, nangka muris, saga, srikaya, kelapa, pokoknya banyak banget. Kini, hanyalah pohon mangga yang tersisa dan kadang tak berbuah.


Untunglah saya memiliki kenangan indah di halaman luas kakek. Biasanya di malam Ramadan selesai Teraweh saya akan duduk di lencak bambu bersama saudara perempuan saya dan Lek. Lek adalah panggilan saya kepada adiknya ibu. Beliaulah tempat curhat saya, yang merawat saya setelah ibu. Saya dekat banget sama Lek, jika ada sesuatu entah kejadian baik atau buruk saya akan selalu curhat pada beliau. Semoga Lek saya diberikan kesehatan dan umur yang berkah. Amin.

Ramadan, menjadikan kenangan tersendiri bagi saya. Menunggu adzan maghrib dan sibuk membantu nenek di dapur membuat minuman manis yang dicampur es. Kadang es degan, kadang es cao, kadang es gudir, kadang es buah, kadang es campur. Kadangpun nenek ngomel-ngomel gara-gara kerjaan saya nggak becus. Hahaha...

Hal yang saya rindukan saat buka bersama keluarga adalah menunggu adzan Maghrib di depan makanan. Mendengar adzan langsung deh ambil segelas air es manis dan langsung menyerbu lauk dan nasi. Kini, kenangan itu hanya tinggalah kenangan. Rumah nenek pun sudah berubah tidak seperti generasi cucunya yang pertama. Mungkin saja sekarang banyak drama... percayalah, bahwa yang paling indah adalah cucu generasi pertama. Hahaha...

Kini saya memiliki kehidupan baru bersama keluarga saya, anak dan suami. Tinggal di tanah rantau jauh dengan keluarga membuat kami lebih mandiri. Mengatur segalanya pun dengan suami tanpa campur tangan, karena kadang tanpa campur tangan itu jauh lebih indah. Apalagi saat pertama kali melakukan persiapan awal Ramadhan di perumahan kami.

Apapun yang terjadi tetaplah kenangan masa kecil saya di saat Ramadan penuh warna. Mulai dari kekenyangan karena berbuka puasa dan sayapun malas sholat Teraweh. Setelah sholat Teraweh masih tadarus hingga malam bersama Lek.



Sekarang kenangan itu tak ada, adanya saya hanya mengaji sendiri dirumah. Keinginan di Bulan Ramadhan adalah konsisten one day one juz selama Ramadan dan berharap tetap konsisten selamanya. Saya berharap semoga ada sebuah kejutan di Bulan Ramadhan. Amin.

Salam,
Dwi Puspita

No comments:

Post a Comment

Yuk berkomentar :)