Wednesday, July 11, 2018

Suatu Sore di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi

Suatu sore di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi. Sebenarnya saya tidak berencana ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Saat saya menikmati secangkir kopi lanang di Taman Sri Tanjung Banyuwangi tiba-tiba ada dua pemuda yang mengajak ngobrol saya dan pak suami. Akhirnya obrolan kami sedikit nyambung karena dua pemuda tersebut juga penikmat kopi sama seperti saya. Menanyakan asal usul kami datang dari mana dan ada acara apa di Banyuwangi. 


Mengetahui bahwa kami turis lokal yang haus hiburan, akhirnya dua pemuda tersebut menyarankan kami untuk berkunjung ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang ada di sebelah selatan dari Taman Sri Tanjung Banyuwangi. 

Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi merupakan rumah dinas Bupati Banyuwangi yang sekarang bangunan tersebut dibuka untuk umum. 


Pintu pagar Pendopo Sabha Swagatha Blambangan selalu terbuka dan dijaga oleh beberapa satpol PP. Jika ingin masuk ke Pendopo Sabha Swagata, lebih baiknya kita izin dulu kepada satpol PP yang selalu siap siaga dibagian depan disebelah pintu masuk.

Dengan ramah dan senyuman satpol PP tersebut pasti akan memberikan izin kepada wisatawan yang ingin berkunjung untuk melihat Pendopo Sabha Swagata Blambangan asalkan menggunakan pakaian yang sopan. 



Luasnya yang kurang lebih 2 hektar dengan halaman berwarna hijau seperti karpet serta pepohonan yang menjulang tinggi menambah asri dan sejuknya pendopo ini. Saat saya berkunjung ke pendopo ini, Satpol PP berpesan kepada saya untuk tidak masuk ke dalam maupun bagian belakang pendopo karena sedang akan berlangsung suatu acara. Saya dan suami hanya boleh jalan-jalan di bagian depan pendopo saja.

Ah... sayang sekali, waktu yang kurang pas menurut saya datang ke tempat ini karena belum bisa melihat bagian dalam dan belakang pendopo yang katanya hampir seperti bukit Teletubbies.



Pendopo Sabha Swagata Blambangan kini dipakai untuk ruang publik, seperti perayaan anak yatim, bedah buku, tempat wisata dan pengajian. Dulunya memang dijadikan rumah dinas para Bupati Banyuwangi yang mungkin belum menjadi jujukan wisatawan seperti sekarang ini. Namun sejak Bapak Azwar Anas menjadi Bupati Banyuwangi Pendopo ini telah dibuka untuk umum dan menjadi tempat wisata.



Ruang terbuka yang serba hijau dengan rumput yang cantik menjadikan tempat ini asri, sejuk dan siapa saja betah berlama-lama untuk bermain dihalaman luasnya. Saya tidak berani masuk ke teras pendopo karena sebelumnya saya sudah diingatkan oleh Satpol PP untuk hari ini saja tidak boleh masuk karena sedang berlangsung acara.



Di samping Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi terdapat musholla yang sangat unik menurut saya. Bentuknya asimetris yang menurut saya aneh, unik dan baru pertama kali saya melihat musholla dengan bentuk seperti ini. Musholla ini di bangun diatas kolam ikan koi yang lantai mushollanya terbuat dari kayu. Alas untuk sholat menggunakan tikar dan terdapat lemari sebagai tempat mukena, sajadah, dan Al Qur'an.


Luas musholla ini kurang lebih 8x9 meter yang dibangun menggunakan tumpukan kayu ulin dengan rangka baja tanpa menggunakan pintu dan yang membuat musholla ini menarik adalah dikelilingi kolam yang terdapat ikan-ikan kecil.


Musholla yang dibangun tanpa menggunakan pintu dan sengaja terbuka ini pastinya agar udara segar dari pohon-pohon besar yang tepat berada dibawah musholla ini bisa memberikan sirkulasi yang maksimal ke dalam ruangan musholla. Musholla yang bersih dan sangat menarik sekali serta sangat unik.


Toilet dan tempat wudhu ada disebelah musholla dengan pembatas batu alam yang sangat disayangkan kalau saya tidak bernarsis dulu di tempat ini. Pembatas batu alamnya digunakan untuk tembok dan lantai sehingga toilet dan tempat wudhu ini terkesan berdesain kontemporer.


Cukup lama kami menikmati Pendopo Sabha Swagata Blambangan walaupun rasa kurang puas karena tidak bisa mengulik ke dalam pendopo dan bagian-bagian lainnya serta tidak dapat melihat bangunan unik yang dimilikinya. Suatu saat jika ada waktu saya ingin mengunjunginya kembali untuk mengetahui bagian dalam bangunan pendopo ini.




Banyuwangi itu indah kaya akan tempat wisata dan wisatanya bagus-bagus. Bupati yang berhasil menjadikan daerahnya berkembang dengan cara memajukan tempat wisata dan memperkenalkan wisatanya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Good job pak Azwar Anas, walaupun saya bukan warga Banyuwangi tapi saya turut bangga atas prestasi wisata Kabupaten Banyuwangi yang melesat sangat cepat.



Kami akan kembali ke Banyuwangi. Kami masih kurang puas mengulik tempat wisata di Kabupaten ini.


Salam,
Dwi Puspita

Tuesday, July 10, 2018

Mengintip Indahnya Taman Sritanjung Banyuwangi

Mengintip indahnya Taman Sritanjung Banyuwangi. Saat saya bermain ke taman ini saya mencari secangkir kopi hitam asli Banyuwangi yang terkenal dengan kopi lanang. Saya berpikir, sepertinya asik deh ngopi di Taman Sritanjung Banyuwangi bersama keluarga ditemani secangkir kopi lanang yang cukup terkenal itu. 

Ceritanya saat travelling ala-ala ke Banyuwangi saya ikut pak suami yang ternyata bukan mengajak saya travelling melainkan mengajak saya dan anak kami untuk menjadi teman selama perjalanannya.


Suatu sore di Banyuwangi setelah pekerjaan suami selesai semua saya mengajaknya jalan-jalan. Jalan kaki dari penginapan menuju ke Taman Sritanjung Banyuwangi. Cukup jauh juga, tapi bagi saya yang memang menyukai jalan kaki saat berada di daerah lain menjadikan hobi tersendiri. Sebelumnya pak suami menyuruh saya memesan taksi online, tapi saya nggak mau. Karena pastinya jika saya memesan taksi online, saya tidak akan bisa foto-foto beberapa spot kece selama berada di Banyuwangi.


Jujukan saya yang pertama kali adalah Taman Sritanjung Banyuwangi. Saya tertarik sekali saat melintas di depan taman ini. Suasananya yang asri memberikan magnet tersendiri buat saya untuk berhenti sebentar menikmati hijaunya pepohonan. Taman Sritanjung Banyuwangi adalah salah satu taman terbesar di Banyuwangi selain Taman Blambangan yang lokasinya berada tidak jauh antara keduanya.



Suami saya cukup mengenal daerah Banyuwangi dengan baik, karena sebelumnya dia pernah tinggal di Banyuwangi selama kurang lebih 2,5 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengenal daerah Banyuwangi dan sekitarnya tapi sayang dia bukan penggila travelling seperti saya.


Mungkin karena kelelahan berjalan kaki, anak saya akhirnya minta gendong. Ya iyalah... saya saja gempor jalan kaki dari penginapan ke Taman Sritanjung Banyuwangi, tapi karena sudah terlanjur setengah perjalanan menuju ke Taman Sritanjung kami tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai juga.



Di sebelah barat Taman Sritanjung Banyuwangi terdapat Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Di sebelah utara Taman Sritanjung terdapat Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang juga merupakan tempat tinggal Bupati Banyuwangi dan di sebelah selatan terdapat Mall Sritanjung yang dulunya adalah penjara. Nama Sritanjung sendiri diambil dari nama tokoh wanita Sritanjung dalam Legenda Banyuwangi.


Taman Sritanjung memang menjadi alternatif tempat rekreasi keluarga maupun tempat berkumpulnya muda-mudi. Banyak juga kuliner murah meriah yang dijual disana. Saya hanya duduk menikmati taman ini ditemani dengan secangkir kopi hitam favorit saya sambil menikmati megahnya bangunan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi.


Lokasinya yang strategis menjadikan Taman Sritanjung Banyuwangi ramai dengan para pengunjung apalagi taman ini bersebelahan dengan masjid. Bagi saya tempat wisata yang dekat dengan masjid atau musholla menjadikan kepuasan tersendiri jika bermain cukup lama ditempat tersebut karena saya bisa menunaikan ibadah wajib tanpa bingung mencari tempat sholat.


Lesehan menjadi tempat favorit saya, apalagi disambi makan menggunakan tangan seperti makan penyetan, atau ikan bakar. Alamakkk nikmatnya...

Anak saya sudah nggak sabar ingin duduk, sayangnya dia masih belum paham arti dari penggunaan meja-meja tersebut. Mungkin anak saya mengira meja-meja tersebut seperti kursi yang siap untuk diduduki.





Tak jauh dari tempat saya duduk menikmati kopi lanang ada toilet yang cukup menarik perhatian saya karena letaknya berada dibawah tanah. Jadi saat berjalan saya hanya melihat atapnya saja dan harus menurunin anak tangga untuk ke toilet.



Taman Sritanjung Banyuwangi ini cukup terkenal, jika di Surabaya ada Taman Bungkul maka di Banyuwangi ada Taman Sritanjung. Jika dibandingkan dengan keduanya, taman ini sama-sama menjadi tempat favorit keluarga untuk berkumpul. Kalau menurut saya, Taman Sritanjung lebih luas jika dibandingkan dengan Taman Bungkul dan pepohonan yang ada di Taman Sritanjung lebih banyak jika dibandingkan Taman Bungkul.






Anak saya sudah mulai mengajak saya jalan-jalan mengitari Taman Sritanjung Banyuwangi. Kesan pertama saat saya melihat taman ini adalah indah, sejuk dan asri karena banyaknya pepohonan, dan juga bersih. Fasilitas di Taman Sritanjung Banyuwangi  adalah sarana olahraga seperti jogging track dan juga stone refleksi. Kapanpun bisa ke taman ini, baik pagi, siang, sore maupun malam hari.


Taman ini cocok dikunjungi kapan saja menurut saya. Di pagi hari taman ini bisa dijadikan tempat olahraga karena sudah tersedia jogging track dan stone refleksi. Di siang dan sore hari juga bisa dijadikan tempat beristirahat walau hanya sekedar duduk-duduk santai menikmati pepohonan dan taman yang asri. Sedangkan di malam hari taman ini pun memukau dengan adanya lampion yang berwarna-warni.



Di tengah Taman Sritanjung Banyuwangi terdapat air mancur, namun tidak untuk bermain karena ada larangan bermain air dan mandi di air mancur tersebut. Air mancur hanya sebagai penghias taman agar taman tampak lebih hidup dan indah. Saya melihat ada beberapa orang tua yang duduk santai dipigggiran air mancur sambil mengawasi anaknya. Sedangkan saya asyik mengikuti langkah kaki anak saya yang entah mau kemana.



Di sebelah air mancur terdapat amphiteather mini, semacam panggung pertunjukan terbuka yang dapat digunakan untuk berbagai pertunjukan seni skala kecil. Semua bagian sudut dari Taman Sritanjung Banyuwangi menjadi tempat favorit untuk bersosialisasi bersama keluarga, teman, maupun rekan kerja. Anak saya asik sekali bermain di amphiteather mini bersama anak-anak lain yang mereka saling tidak mengenal.





Sebenarnya banyak sekali wisata Banyuwangi yang ingin saya eksplor. Berhubung kerjaan suami sudah kelar, mau nggak mau saya harus meninggalkan Banyuwangi tanpa ada cerita menarik lainnya.


Salam,
Dwi Puspita

Monday, July 09, 2018

Kuliner Surabaya - Mencicipi Nasi Pecel Madiun Bu Hadi Di Jalan Walikota Mustajab Surabaya

Hari itu sangat cerah sekali, matahari benar-benar menyengat kulit kami. Bagi saya tak masalah, sebab saya ingin bakar kalori di pagi hari dengan berjalan kaki mengitari jalanan Kota Surabaya. Jalan Yos Sudarso dan jalan Ketabang Kali menjadi saksi bahwa saya sudah pernah berjalan kaki untuk membakar kalori sambil menikmati Kota Surabaya di pagi hari. Hahaha...




Namun pada akhirnya energi saya terkuras juga, saya kelaparan. Tidak hanya saya saja yang kelaparan, anak dan suami saya juga kelaparan setelah berjalan kaki mengitari jalanan Kota Surabaya. Akhirnya langkah kaki kami berhenti di Jalan Walikota Mustajab, sambil melihat anak dan suami yang keasikan bermain saya duduk di trotoar jalan sambil menikmati beberapa kendaraan yang lalu lalang di depan kami.



Saya perhatikan dari tadi suami dan anak saya asik bermain. Bermain petak umpet ala-ala yang bikin anak saya bahagia dengan tawanya yang cekikikan. Setelah puas cekikan dan puas bermain akhirnya kami kelaparan juga. Di Jalan Walikota Mustajab Surabaya akhirnya kami berlabuh untuk mencari kuliner murah meriah di sepanjang jalan ini. Akhirnya kami pun menemukan tempat makan Bu Hadi, karena hanya tempat makan itulah yang buka.



Mencicipi nasi pecel Madiun Bu Hadi di Jalan Walikota Mustajab bersama suami dan anak saya. Walikota Mustajab sendiri terkenal dengan kuliner sate kelopo nya. Jujur saya belum pernah mencoba, karena untuk urusan per'sate'an saya kurang beruntung. Kadang nafsu makan sate ada tapi mengingat penyakit yang saya derita jadinya mau nggak mau saya harus bisa menolaknya. 



Kami mencari tempat duduk kosong dengan powsisi uwenak. Semuanya kosong dan uwenak semua posisinya. Ya maklum, masih baru buka jadinya kami bisa pilih tempat duduk sesuka hati. Kemudian datanglah mbak-mbak menyodorkan menu makanan yang sudah tertera dengan harganya.



Saya suka sekali tempat makan yang sudah menyertai harga makanan dan minumannya. Dengan demikian saya tidak takut kalau harga makanan yang saya pesan terlalu mahal atau tidak. Hahaha...
Dari daftar menu di atas bisa dilihat harga nasi pecel Madiun yang cuma 10 ribu rupiah saja. Murah meriah bukan...



Akhirnya kami memilih menu nasi pecel madiun. Suami saya memilih menu nasi pecel madiun dengan lauk tahu tempe sedangkan saya menu nasi pecel dengan lauk tahu, tempe dan empal suwir. Harganya pasti berbeda donk, karena menu saya di tambah lauk empal suwir.



Sambil menunggu pesanan datang anak saya asik menonton acara televisi. TV yang dikaitkan ke dinding memang membuat hemat tempat. Bagi pelaku usaha memang harus kreatif dalam menata lahannya agar tetap kelihatan jembar (luas), satu-satunya dengan jalan memanfatkan sekat di dinding untuk tempat barang.



Akhirnya minuman yang kami pesan datang juga, minuman yang kami pesan ada 3, antara lain teh hangat jumbo, jeruk hangat, dan es cao. Teh hangat jumbo untuk suami saya, jeruk hangat untuk anak saya, dan es cao untuk saya sendiri.


Nasi pecel Madiun yang kami pesan juga sudah diantar oleh si mbaknya.  Dengan lauk tahu, tempe, empal suwir, serta ada tambahan serundeng. Peyeknya enak sekali dan sambel pecelnya lumayan pedas. Untuk rasa sih sama saja seperti nasi pecel pada umumnya.


Menurut saya porsi nasinya sangat banyak, karena saya merasa kekenyangan untuk menghabiskan satu porsi nasi pecel Madiun ini. Padahal kalau urusan perut saya nggak pernah nolak dan nggak pernah ada kenyangnya. Tapi kali ini saya dibikin kekenyangan oleh nasi pecel Madiun bu Hadi ini.


Jangankan saya, suami saya saja sudah menggap-menggap makan nasi pecelnya. Untungnya nasi pecel suami saya dimakan berdua dengan anak saya. Cuma... anak saya nggak pake sambel hanya serundeng, nasi, tempe, dan daging. Okelah itu saja cerita kulineran saya di jalan Walikota Mustajab menikmati nasi pecel Madiun Bu Hadi.

Baca juga : Taman Balai Kota Surabaya, Alternatif Liburan Untuk Keluarga



Sepertinya anak saya lahap banget makan nasi pecel madiunnya yang tanpa bumbu. Maklum... mungkin anak saya sudah kelaparan. Dari pagi sudah banyak aktifitas, mulai dari bermain air mancur di Taman Balai Kota Surabaya, singgah sebentar ke Monumen Panglima Besar Djendral Soedirman, dan terakhir menyusuri jalanan Ketabang Kali dan Jalanan Yos Sudarso. Waktu yang pas untuk mengisi perut.


Salam,
Dwi Puspita



Sunday, July 08, 2018

Ada Apa di Antara Jalan Ketabang Kali dan Jalan Yos Sudarso Surabaya?

Ada apa sih di Jalan Ketabang Kali dan Yos Sudarso kok sampai dibela-belain jalan kaki seperti turis buat eksplor tempat ini?
Jawabannya pasti ada donk karena setiap tempat punya keunikan masing-masing entah dari kuliner, nama jalan, maupun tempat wisatanya. Yang saya tahu, jalan Ketabang Kali ini punya kuliner yang melegenda yaitu kuliner pecelnya yang terkenal dengan nama Pecel Ketabang Kali. Selain itu Jalan Ketabang Kali punya taman bermain yang sayang sekali kalau dilewati. Kalau lewat jalan ini kalian harus mampir sebentar untuk mengulik ada apa sih sebenarnya di taman tersebut.


Nama tamannya Taman Prestasi, Taman Prestasi sudah pernah saya ulas sebelumnya di blog ini. Kalau belum pernah baca, silahkan baca lagi disini (Taman Prestasi).

Taman Prestasi yang terletak di Ketabang Kali ini memiliki taman bermain untuk anak-anak dan juga bisa dijadikan tempat berkumpulnya keluarga. Selain itu ada wisata perahu Kalimasnya juga loh. Karcisnya murah meriah dan kalian akan menikmati lampion bergelantungan yang membentang di sungai Kalimas dengan warna-warni yang sangat menarik.




Ketika saya mengambil gambar suami dan anak di trotoar jembatan, posisi saya sedang berada di Jalan Ketabang Kali sedangkan posisi suami dan anak saya berada di Jalan Yos Sudarso. Di sepanjang jalan Yos Sudarso kita juga akan mendapatkan kuliner es krim yang melegenda yaitu Zangrandi. Rasa es krimnya enak, yah pantas saja kalau harganya termasuk harga yang menengah ke atas. Itu menurut saya loh ya...


Selain itu di Jalan Yos Sudarso ada beberapa fasilitas umum dan tempat ibadah yang cukup terkenal. Perpustakaan Umum Kota Surabaya, Rumah Bahasa Surabaya, Balai Pemuda Surabaya, dan Gereja Maranatha yang tepat berada di sebelah utara Balai Kota Surabaya.

Balai Kota Surabaya sendiri sudah pernah saya ulas di blog saya. Saya mengajak anak saya bermain air disini, kalau malam minggu taman Balai Kota Surabaya ini ramai dengan para pengunjung yang membawa keluarganya.



Jika saya berdiri di trotoar jembatan ini, posisi saya berada di Jalan Yos Sudarso dan saya dapat melihat Monumen Panglima Besar Djenderal Soedirman dan Balai Kota Surabaya. Sebelumnya sudah saya tulis tentang Monumen Panglima Besar Djendral Soedirman di blog ini, yang mau baca disilahkan. 



Bangunan tinggi yang dilihat anak saya adalah Hotel Garden Palace yang pintu masuk menuju kawasan hotelnya dari arah Jalan Yos Sudaraso. Kapan-kapan bolehlah staycation dihotel itu bareng anak dan suami, semoga saja dalam keadaan sehat keluarga kami dan pastinya semoga ada rezeki yang berlimpah.


Anak saya yang memang suka melihat air sepertinya ingin sekali turun nyebur ke Kalimas. La wong disuruh turun aja nggak mau sampai dia berdiri di atas pembatas besi hanya untuk melihat kali. Saya kan takut, takut tiba-tiba anak saya kepleset dan jatuh ke sungai.

Tak jauh dari Jalan Ketabang Kali saya jalan kaki lagi ke arah selatan dan menemukan jalanan yang sangat sepi mirip seperti gang tapi bersih dan rapi dengan tanaman hijaunya. Asik buat foto-foto juga sih karena kanan kirinya terdapat pepohonan yang sangat rimbun.


Mungkin ini saja cerita saya jalan kaki hanya untuk mengamati Jalan Yos Sudarso dan Jalan Ketabang Kali. Saya akan melanjutkan perjalanan mencari kuliner murah meriah di Jalan Walikota Mustajab.


Salam,
Dwi Puspita


Saturday, July 07, 2018

Menikmati Selat Madura di Taman Suroboyo

Haiiii semua.... apa kabar?
Kali ini saya mau cerita jalan-jalan ke Taman Suroboyo buat menikmati air laut. Taman Suroboyo ini berbeda sekali dengan taman-taman yang ada di Kota Surabaya karena di taman ini kita bisa menikmati pemandangan laut secara langsung. Laut yang kita lihat adalah Selat Madura dan di taman ini pula kita bisa menyaksikan Jembatan Suramadu yang agak samar-samar terlihat. Begitu kecil jika dilihat dengan mata telanjang.


Taman Suroboyo ini teletak di pemukiman padat penduduk. Mayoritas penduduk disini pekerjaannya adalah nelayan. Tak salah jika pemerintah Kota Surabaya membangun Sentra Ikan Bulak di tempat ini. Sentra Ikan Bulak adalah tempat untuk menjual hasil tangkapan ikan dari para nelayan Bulak lebih tepatnya pusat wisata kampung nelayan Bulak Surabaya. Mereka akan menjual ikan-ikan tersebut yang rata-rata yang menjualnya adalah para istri nelayan Bulak.



Saya pernah membeli ikan asap di sentra ini, tapi dulu bangunannya tidak sekeren seperti sekarang. Harga ikan asapnya bervariatif tergantung jenis ikannya. Ikan asap ini cocok sekali buat dimakan dengan sambel penyet, rasanya tiada duanya. Enakkk sekali...





Untuk jenis ikannya macam-macam ya, harganya juga. Kadang harga berubah sewaktu-waktu tergantung kesulitan para nelayan mendapatkan ikan. Misal, jika angin kencang maka harga akan naik karena para nelayan kesulitan mendapatkan ikan dan hasil tangkapannya hanya sedikit.


Kembali lagi ke Taman Suroboyo, saat saya mengunjungi taman ini banyak sekali anak-anak yang bermain bersama temannya maupun mengajak adiknya jalan-jalan menikmati angin laut. Walaupun panas tapi kadang angin lautlah yang membuat suasana sedikit sejuk. Angin laut membuat kerudung saya melambai-lambai bak iklan shampo. Hahaha....


Taman Suroboyo sudah tertata rapi dan bersih. Oleh sebab itu mari kita jaga kebersihan Taman Suroboyo ini dengan sebaik-baiknya. Di taman ini sudah disediakan 3 macam bak sampah yang berwarna-warni, setiap warna dari bak sampah ini memiliki arti sendiri. Warna kuning untuk sampah jenis kertas. Warna hijau untuk sampah jenis lainnya seperti sampah daun kering. Warna merah untuk sampah jenis botol dan kaleng.


Tempat parkirnya juga lumayan luas baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua. Jadi nggak perlu berebut mencari lahan parkir ya. Tapi sepertinya jika pengunjung banyak mungkin kesulitan juga mencari tempat parkir sih. Seperti saat saya datang ke taman ini dan saat itu pula ada acara yang menghadirkan pejabat pemerintah, dimana mobil-mobil pada parkir dipinggir jalan karena tempat parkir yang seharusnya dibuat parkir sudah tidak bisa menampung lagi.





Ada yang menarik juga di Taman Suroboyo ini. Selain dapat menikmati laut lepas pun kita akan mendapatkan warna warni rumah seperti di Kampung Jodipan Malang. Memang tempat ini akan dibuat cantik oleh Pemerintah Kota Surabaya karena tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tempat ini dengan menonjolkan kampung wisatanya.



Namanya juga taman, pastinya di tempat ini sudah lengkap dengan sarana bermain anak-anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan. Taman-taman di Kota Surabaya memang dibuat semenarik mungkin agar warga Kota Surabaya bisa bermain dan berkumpul di tempat itu bersama keluarga saat weekend.




Tak jauh dari Taman Suroboyo terdapat Jembatan Kenjeran Surabaya. Jembatan ini katanya sih hampir sama dengan Jembatan negara sebelah. Iya sih, saya mengakui juga. Jembatan Kenjeran Surabaya memang keren banget. Sekarang Jembatan Kenjeran Surabaya sudah dijadikan tempat wisata untuk menikmati keindahan laut.




Oke deh, itu dulu ya cerita jalan-jalan saya ke Taman Suroboyo. Semoga saya masih diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah oleh Allah agar bisa mengeksplor Kota Surabaya dan tempat lainnya.

Salam,
Dwi Puspita