Cerita Perjalanan Mudik Lebaran 2018

Holaaaa… I’m came back again. Duh… pengen banget ngobrol ngalor ngidul cerita selama liburan Lebaran 2018 kemarin. Seru banget kegiatan saya selama liburan di kampung halaman, saking serunya pengen internetan aja susahnya minta ampunnn. Sinyal bambetttt pake banget, bikin bete donk pastinya. Nah karena sinyal selama liburan nggak ada, ya sudah deh cerita Libur Lebaran 2018 bakalan saya update setelah saya balik ke perantauan dan sekarang lah waktu yang tepat karena hari ini saya sudah memulai aktivitas harian saya lagi. Mulai dari beberes rumah macam upik abu, bakulan gombal, dan internetan mencari secercah job…. Halah…. Lebay pake banget deh. 




Cerita ini termasuk telat pake banget, karena cerita ini sebenarnya sudah terjadi H-2 sebelum Lebaran 2018. Persiapan mudik keluarga kami ke Pulau Garam dengan menggunakan mobil pribadi sangat berkesan sekali, masalahnya barang-barang yang kami bawa banyak banget. Mulai dari kasur, perlengkapan kerja saya selama liburan, dan oleh-oleh untuk banyak keluarga. Sebelumnya prediksi mudik kami gagal total yang maunya H-5 sebelum Lebaran sudah mudik tapi ternyata ZONK. Soalnya suami saya masih masuk kerja sampai H-2 Lebaran dan asiknya libur Lebarannya panjang juga. 

Persiapan mudik ini sudah jauh-jauh hari. Sebelumnya saya sudah menyiapkan pakaian suami, anak, dan saya sendiri selama di kampung halaman. Mudik kali ini terhitung sangat panjang karena hampir 2 minggu suami saya libur. Momen langka seperti ini pasti ditunggu-tunggu saya dan suami karena kami jarang sekali pulang ke kampung halaman. 

Sebelum mudik beberapa persiapan sudah saya lakukan. Mulai dari beberes rumah agar nantinya saat kembali dari mudik saya tidak terlalu pusing melihat keadaan rumah. Rumah yang berantakan pasti bikin saya bete, oleh sebab itu sebelum mudik sudah saya kondisikan rumah harus bersih sebelum ditinggal. 


Persiapan lainnya adalah mematikan kran utama air, melepas pipa gas, dan mencabut sambungan listrik yang sekiranya tidak terpakai. Tak lupa mengunci pintu dan membaca do’a sudah pasti kami lakukan. 

Persiapan lainnya adalah mengecek angin ban kendaraan dan mengisi BBM agar mudik lebih nyaman. Mengapa harus isi BBM dulu? Karena dari pengalaman pribadi, nantinya bakalan antri juga buat isi BBm dengan para pemudik lainnya, jadi mendingan mempersiapkan isi BBM dekat rumah saja, rasa capek masih belum ada dan semangat mudik masih menggebu-gebu. 


Perjalanan ke kampung halaman saya normal 4 jam asalkan tidak ada halangan seperti antri pasar tumpah dan mampir-mampir. Mampir-mampir maksudnya adalah berhenti sebentar ke toko untuk membeli sesuatu, berhenti di masjid untuk sholat, atau berhenti karena ingin istirahat. Jika ada halangan seperti ini pastinya lebih dari 4 jam perjalanan tersebut. 

Selama perjalanan ke Madura pastinya kami melewati Jembatan Suramadu yang sudah terkenal menjadi jembatan terpanjang se Asia Tenggara. Jembatan yang diresmikan oleh bapak SBY ini sudah tak terhitung berapa kali saya melewatinya. Selain menyaksikan Jembatan Suramadu, pastinya para pemudik yang ke Madura akan melewati persawahan yang sangat luas di kanan dan kirinya. Untuk para pemudik yang ke arah Timur Pulau Madura pastinya akan menyaksikan atau melewati jalanan yang berbatasan langsung dengan pantai. Pantai yang indah dengan air yang berwarna biru dan pemadangan alam yang menakjubkan menurut saya. 


Pernah suatu hari saya punya impian berhenti dan bermain dipantai ini untuk mencari siput laut yang sangat enak untuk dikonsumsi. Rasanya gurih dan lezat jika dicampur dengan bumbu. Tapi saya lebih suka mengkonsumsinya tanpa bumbu. 

Begitulah cerita saya selama perjalanan mudik Lebaran 2018. Jangan lupa subscribe ya teman-teman.

Salam,
Dwi Puspita



No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)