Serunya Petik Buah Di Kebun Sendiri

Saya itu pernah sesekali, dua kali, tiga kali punya impian jalan-jalan ke kebun buah dan memetik buah langsung dari pohonnya. Seperti impian ke perkebunan apel dan stroberi yang berada di kawasan Batu. Tapi itu hanya impian saja dan sampai sekarang belum pernah terwujud. Lebaran 2018 kemarin saya membawa banyak oleh-oleh cerita yang sayang sekali kalau nggak saya ceritakan di blog saya ini. Soalnya saya sebenarnya tipe yang ogah-ogahan nulis dan memilih mengabadikan cerita dan foto melalui sosmed saya saja.



Berhubung kemarin sinyal di kampung saya bambet bin lambret ya sudah deh saya nggak bisa eksis di keduanya. Baik itu curcol di blog maupun membagikan foto narsis di media sosial. Padahal foto-foto saya saat liburan di kampung halaman banyak banget, sampai saya bosen melihat foto saya sendiri. Huahahaha...


Keinginan memetik buah langsung dari pohonnya sebenarnya bisa saya realisasikan di kampung halaman saya sendiri. Memetik buahnya di kebun milik sendiri lebih nikmat, panen hasil, dan nggak pake bayar. Bukan kebun milik sendiri sih, tetapi kebun milik ortu. Disana saya bebas memetik sesuka hati sampai perut kenyang.



Kebetulan saat pulang kampung selama Lebaran 2018 kemarin buah yang bisa di panen adalah jambu air. Beberapa pohon mangga juga berbuah namun masih belum pas untuk dipetik, masih terlalu muda dan hanya cocok dibuat rujak saja. 


Nggak pake lama saya langsung menyerbu pohon jambu air yang dahannya tidak terlalu tinggi. Saya langsung memetik buah langsung dari pohonnya. Tidak hanya saya, anak saya dan sesepunya juga sangat menyukai jambu air.


Jambu air agar tetap aman dari serbuan kelelawar ataupun burung biasanya ditutup menggunakan karung beras yang sudah dipotong-potong sesuai ukuran yang pas. Kemudian sebagai pengaitnya agar karung beras tetap aman menutupi jambu air harus menggunakan tusuk sate. Kalau pakai steples bisa juga sih, tapi lebih efisien menggunakan tusuk sate saja. Pakai tusuk sate agar sewaktu-waktu bisa membuka dan menutup untuk sekedar melihat keadaan jambu air yang siap panen dan siap dimakan. 


Tak ada bosannya saya nyemil jambu air ini, maklumlah kalo sudah kembali ke perantauan saya sangat merindukan sekali buah satu ini. Ada sih yang jual tapi tak se segar saat saya memetik langsung dari pohonnya. Nah... mumpung saya bisa memetik langsung dan langsung hap maka kesempatan yang sangat indah ini tidak akan saya lewati.



Indah sekali menurut saya, karena momen ini hanya bisa saya lakukan saat pulang kampung dan itu pun jika momennya pas saat musim jambu air.



Jambu air atau klampok (dalam bahasa Madura) ini biasanya di jual ke pembeli buah yang mana orangnya mendatangi beberapa rumah yang memiliki pohon yang sedang berbuah. Nantinya pohon yang berbuah itu akan di beli buahnya, entah pohon manga, jambu air, atau pohon  dengan buah lainnya. Tapi untuk musim jambu air kali ini tidak dijual oleh ortu saya karena memang pembeli buahnya belum mendatangi dan membooking jambu air. 


Saya betah sekali berlama-lama di bawah pohon jambu air ini. Bahagia saya ternyata sangat receh ya, bisa memetik buah langsung dari pohonnya sudah bikin nyesss di hati. 


Ya sudah deh, itu saja cerita saya tentang serunya memetik buah di kebun sendiri. Oh iya... buah ini nggak akan sia-sia karena buah yang jatuh bisa untuk makanan kambing. Kebetulan ortu saya juga memelihara kambing, jadi nggak sia-sia buah ini saat jatuh.




Salam,
Dwi Puspita



No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)