Saturday, September 03, 2016

{CERPEN} I MISS YOU TWEETY

Bismillahirrahmanirrahim….

Pukul 03.00 waktunya bangun untuk solat tahajud, ku raih ponsel bututku dan ku bangunkan Tweety…
“Ty,,, bangun,,,uda solat?”kataku pada Tweety. “Udah”,jawabnya.
“Solat apa???”,tanyaku lagi.
“Solat isya, temani aku makan saur ya…”,pinta Tweety.
“Ya!!”,jawabku singkat.

Ku menemani Tweety makan saur, dan tiba-tiba saja aku tak sadar dan tertidur. Aku meninggalkan Tweety, aku telah pulas dengan tidurku dan terbawa mimpi-mimpi.
Aku terkejut dan seketika aku raih ponselku, pukul 04.45 dan aku sadar bahwa adzan subuh telah berlalu 20 menit yang lalu. Aku ingat Tweety, aku harus cepat-cepat menghubunginya. Aku harus bicara dengannya.


Baca juga : ODOP 1 (Lagu Anak, kok menghilang?)




Di saat aku menghubunginya, aku dihadapkan dengan persoalan yang rumit dan menurutku itu hanya membuatku merasa bersalah. Tak perlu aku tulis. Hanya aku dan Tweety saja yang tau. Seketika itu dia menutup pembicaraan dengan kata akhir salam. Aku berteriak meminta Tweety untuk tidak menutup pembicaraan ini. Tapi tut…tut…tut. Pembicaraan kami telah terputus.



Baca juga : ODOP 2 (Komik Doraemon dan Seorang Teman)
 
Pukul 07.00 aku berangkat kuliah, hari ini mata kuliah Akuntansi. Selama pelajaran aku tidak mendengarkan penjelasan-penjelasan dosen, aku termenung, melamun, dan tanpa aku sadari aku meneteskan air mataku. Aku ingat kenangan bersama Tweety, saat aku pertama kali mengenalnya, di saat aku mulai memahami karakternya, di saat aku mulai dekat dengannya, di saat aku mulai membutuhkan dirinya.

Tetesan air mataku tak terbendung sudah, aku merasa diriku lemah, dan menyadari bahwa aku hanya manusia yang mempunyai banyak dosa dan kesalahan. “Maafkan aku Ty,,,”, ucapku. Ku hapus air mata ini perlahan agar teman-teman di sampingku tidak menyimpan rasa curiga padaku dikarenakan mataku yang mulai sembab karena air mata yang menetes tiada hentinya.


Baca juga : ODOP 3 (Buku Paket Pelajaran Yang Turun Temurun)

Ku mulai mengangkat kepalaku, mendengarkan penjelasan dosen dan mencatat semua yang diterangkan oleh beliau. Aku harus tegar dengan semua ini, tak boleh menyerah. Ibuku menunggu di rumah, mengharapkan aku menjadi seorang anak yang sukses, mengharapkan aku menjadi orang yang bisa meneruskan perjuangan seorang ibu dan mendidik anak-anaknya. Aku adalah tumpuan ibuku, karena saudara perempuaku yang tak bisa diharapkan oleh ibuku gagal dalam cita-citanya. Dia memilih untuk berkeluarga dari pada meneruskan studi yang lebih tinggi. Suaminya adalah temannya di waktu SMA dulu, kini dia dikaruniai satu orang putra dan satu orang putri yang tak lain adalah ponakanku sendiri. Namun, hubungan suami istri itu hanya sementara saja dan diakhiri dengan keputusan ‘cerai’.

Mata kuliah Akutansi selesai, waktunya mata kuliah ke-2 di hari Senin yang suram ini. Analisis Multivariate yang menurutku mata kuliah yang susah-susah gampang. Susah pelajarannya tapi gampang mendapatkan nilainya.


Baca juga : ODOP 4 (Pentingnya Budi Pekerti Untuk Anak)

Ku melangkah, melewati rumput-rumput yang tumbuh subur dan menghijaukan alam, gemericik air yang mengalir ke hilirnya, bebatuan yang berdiam diri di peraduannya. Sungguh aku tak bisa membohongi diriku sendiri, sungguh aku tak bisa seperti ini terus-menerus, dan sungguh aku merasa diriku bukanlah diriku yang sebenarnya.

Langsung aku menuju kantin jurusan, ku pesan tempe penyet dan segelas es teh pada ibu kantin untuk mengganjal perutku yang dari tadi berbunyi. Tak tau mengapa tiba-tiba air mataku menetes membasahi pipiku, aku merasakan Tweety ada didekatku, menemani dan melihat aku makan tempe penyet, rasanya begitu nyata tapi ini hanya imajinasiku semata. Dia berada nun jauh disana, tak bisa merasakan apa yang aku rasa, dan aku pun tak merasakan apa yang dia rasa. Ku mengenang saat-saat bergurau dengannya, di saat aku dibuat jengkel olehnya karena gurauannya melampaui batas-batas kesabaranku. Tapi aku senang dengan semua itu.


Baca juga : ODOP 5 (Pengalaman Sewa Sepeda Motor Selama Berada di Bali)

Suap demi suap nasi kupaksakan masuk ke dalam mulutku dengan tetesan air mata yang mengalir tiada hentinya. Ku menangis mengenang masa lalu yang tak akan terulang lagi. Ku menangis pada sesuatu yang sia-sia dalam hidupku. Seharusnya aku bisa melupakan ini semua, bersikap tegar seperti diriku yang dulu, pada masalah yang membebani hidupku. Aku percaya Allah akan selalu ada di dekatku, mengawasi semua tingkah laku ku, melihat usahaku, dan pastinya mendengar do’a ku.

Di laboratorium komputasi saat dosen menerangkan pelajaran, pikiranku melayang kemana-mana. Tak bisa duduk tenang dan konsentrasi untuk mencatat semua penjelasan beliau. Tanganku tak henti-hentinya mengutak-ngatik papan keyboard untuk sign in ke email ku dan mengecek apakah ada email yang masuk. Ternyata tak ada email yang masuk so langsung ku mengirim pesan pada Tweety dan ku kirim ke email-nya. Aku mencurahkan semua perasaanku, mencurahkan jikalau tak ada dia sepi rasanya hidup ini. Tak ada orang yang mengajak bersenda gurau hingga kebablasan kata-kata. Tweety…oh…Tweety aku merindukan dirimu. Dimanakah dirimu saat ini???

Tak henti-hentinya aku melihat kedua ponselku selama pelajaran berlangsung, tak ada sms ataupun panggilan masuk untukku, sepi untuk hari ini begitupun dengan hatiku terasa sepi. Ya Allah kuatkan hamba dalam menghadapi ini semua. Tweety aku semakin merindukan dirimu.

Aku tertidur di saat pelajaran berlangsung, sambil menangis aku mengingat kenangan-kenangan bersama Tweety, saat pertama kali mengenalnya, saat dia mengajakku ke resepsi pernikahan temannya, saat di taman Bungkul, saat dia memberikan kado ultah untukku, mengantarkan aku ke DTC, saat dia mengajak aku ke rumah saudaranya di Demak, kenangan di saat ngopi bareng, kehujanan, saat mencari ikan, saat membawa aquarium, saat makan tempe penyet, saat mencari pom bensin, saat ke Blauran, di saat kau mendengarkan ceritaku sambil bermain ayunan, saat nge-STMJ bareng, saat ke Bratang mencari hamster, saat di masjid Akbar, saat menjemput dia di Bungurasih, saat di rumah mbak Sinta, saat mengantarkan dia ke stasiun Gubeng, pokoknya banyak sekali kenangan bersama Tweety. Ty…aku kangen kamu…sungguh aku merasa kesepian. Aku kehilangan teman, kehilangan kakak, sekaligus kehilangan hatiku. Allah tolonglah aku. Allahu Akbar.


 Baca juga : ODOP 6 (I MISS YOU TWEETY)

Ku terbangun, dan meraih keyboard serta mouse untuk login ke email mu. Ku ingin melihat email mu dan membacanya mungkin saja ada sesuatu yang nantinya menjadi referensiku. Dengan lancang aku mengutak-ngatik pesan masukmu dan aku mendapatkan email dari mbak Sinta. Aku baca, baca, dan baca. Ku hayati kata demi kata pesan itu. Hingga ku menangis entah kenapa. Air mata itu jatuh tak terduga di pipiku dan terus mengalir ke bibirku yang dari tadi komat-kamit membaca pesan dari mbak Sinta.

Dan ini semua email dari mbak Sinta yang aku simpan sebagai bukti kalau aku telah lancang membuka dan membaca email Tweety tanpa sepengetahuan dan seizin-nya. Ini semua aku lakukan karena aku always care with you. Aku merindukanmu, aku merasa kesepian, aku butuh teman untuk menasehati aku, memberikan motivasi untukku, dan pencerahan batin serta hatiku. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku.

Pesan email itu membuatku menangis dan akan selalu mendo’akan mu selalu agar do’a dan hajatmu selalu dikabulkan oleh Allah SWT.







Air mataku semakin mengalir deras, kini bulir-bulir itu menjadi hujan air mata, Ya Allah tolonglah hamba dalam menghadapi ini semua. Aku akan selalu berdo’a untukmu kakakku, kakak yang aku sayangi, kakak yang selalu menemani aku dan mengajakku bersenda gurau. Semoga dirimu menemukan calon istri yang sesuai apa yang kau harapkan dan menjadi pilihan terbaik untukmu dan keluargamu. Menjadi sekretaris dalam rumah tanggamu, mengayomi kamu, anak-anakmu, serta keluargamu. Aku akan selalu mendo’akan kamu kakakku di setiap sujudku pada Ilahi Rabbi. Tak selamanya aku seperti ini, dan tak selamanya pula kau seperti ini. Mungkin jalan kita berbeda, tapi suatu saat nanti pasti kita akan bertemu di lain dimensi waktu yang berbeda. Aku akan selalu mengingatmu, mengenangmu, dan mendo’akanmu seperti kau mendo’akan aku selama ini. Jujur, berat rasanya aku menulis kata demi kata di lembaran ini. Tapi ini akan menjadi kenanganku bersama kamu kakakku, aku menyayangimu.




Pesan serta nasehatmu akan selalu aku ingat, karena kamu telah merubah hidup serta alur pikiranku. Dan di saat kau memanggilku dengan sebutan ”Tweety“. Tweetyku kau benar-benar menghilang dalam imajinasiku. Ku persembahkan lembaran ini untuk mengenang dirimu, untuk menghormatimu, dan untuk menyayangimu. Dan aku merindukan dirimu disaat kau memanggil diriku dengan sebutan Tweety, karena Tweety adalah panggilan sayang untukmu. Tweety...


Related Posts

{CERPEN} I MISS YOU TWEETY
4/ 5
Oleh

2 komentar

Tweety oh tweety, mirip dengan panggilan yang satu itu ya.

Hahaha...yg mana mbak...wkwkwk

Yuk berkomentar :)