Tungku Itu Akhirnya Aku Tengok

Giveaway tengak tengok blog sendiri di tahun 2014 oleh Om Trainer, oke...aku masih terperangkap dengan judul Tungku di Dapur Emak. Aku memilih tulisan ini karena aku salut sama emakku, emakku rela nggak beli kompor minyak tanah atau kompor gas demi menghemat uang. Selain disamping rumah emak banyak kayu bakar sisa ranting-ranting pohon mangga, emak juga menghemat uang. Kata emak daripada beli kompor baru mending uangnya pake kebutuhan yang lain saja.

Sebenarnya latar belakang aku menulis postingan ini karena aku kagum banget ama emakku, emak rela bersusah-susah dengan tungku buatannya sendiri. Padahal emak tinggal minta uang ke aku buat beli kompor gas baru, tapi beliau tidak melakukannya. Emak masih setia dengan tungku kenangan itu. Dari zaman dulu sampe zaman semoderen ini tungku emak selalu mengepul, setiap pulang kampung emak memasak air dan nasi disini.

Postingan ini aku buat sangat singkat, cuma butuh 5 menit saja sambil mengingat emak dan tungkunya. Tungku yang banyak kenangan disaat anak-anaknya masih orok (bayi) dan aku menulis postingan ini saat istirahat siang di kantor sambil menyeruput kopi hitam kesukaanku.

Kelemahan tulisan tersebut hanyalah menceritakan tungku yang pastinya semua orang belum tentu menggunakan tungku, jadi mereka mungkin belum tau sulitnya menghidupkan api di tungku untuk memasak nasi atau air yang sesekali harus ditiup dengan suatu alat dari bahan bambu agar api tetap menyala.


Perbaikan yang mungkin dilakukan adalah pada diri sendiri, harus banyak bersyukur telah hidup di dunia modern sekarang ini. Semuanya serba mudah tinggal klak klik klak klik tidak seperti dulu yang semuanya dilakukan dengan sangat lama namun selalu pasti. Alhamdulillah Ya Allah, kau selalu memberikan kesehatan pada emakku, dan semoga Engkau selalu menjaganya karena jika beliau sudah tiada dapur sudah tak akan mengepul lagi.

Emak I love you...

No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)