ke Masjid Asy Syuhada dulu, baru incip Sate Lalatnya




Jika kalian ingin melancong yah sekedar melakukan perjalanan ke Kabupaten Pamekasan, ke kampung halamanku tercinta jangan lupa mampirlah ke Masjid Agung Asy Syuhada Pamekasan. Sempatkanlah untuk sholat disini, setelah sholat bolehlah kalian beristirahat disini sambil menikmati keindahan dan kemegahan dari masjid ini.




Masjid Asy Syuhada adalah masjid terbesar di Kabupaten Pamekasan. Selain terbesar masjid ini juga termegah yang ada di Kabupatenku. Gimana nggak megah, lah wong arsitektur bangunannya aduhai, Subhanallah... benar-benar Rumah Allah.




Setiap akan menuju rumah emak (pulang kampung) aku selalu melewati masjid ini. Biasanya aku beristirahat sebentar, menunggu adzan Dhuhur dan aku sempatkan untuk sholat di Masjid ini. Masjid yang memiliki 3 lantai dan mampu menampung ribuan jamaah ini terletak di Jalan Mesigit No. 23. Insyaallah hati kalian bakalan adem di masjid ini sambil menikmati semilir angin dari lantai 2 aku jamin mata kalian akan kriyep-kriyep dan tertidur.





Jangan ketinggalan juga untuk mampir ke Monumen Arek Lancor. Monumen Arek Lancor ini berada pas di depan Masjid Asy Syuhada. Banyak muda mudi tua muda bahkan balita tumplek blek di tempat ini di pagi hari dan sore hari. Di pagi hari biasanya mereka berolahraga, sedangkan sore harinya mereka akan siap-siap berkumpul untuk menantikan malam. Disinilah keramaian yang sebenarnya yang ada di Jantung Kota, Kabupaten Pamekasan.


Untuk masalah kuliner yang ada disekitaran masjid ini, sepertinya cuma pedagang kecil-kecil sih atau sudah biasa kita makan. Seperti jajanan es, pentol, pangsit, dan bakso. Untuk mendapatkan kuliner yang maknyos kita bisa ke jalan Niaga yang jaraknya tidak jauh dari Masjid Asy Syuhada ini. Nggak nyampek 1 km kok tenang saja, jalan kaki pasti sehat sembari menuju pusat kuliner di Jalan Niaga.

Kuliner yang mungkin cukup terkenal adalah sate lalat. Iya, sate lalat atau sate laler. Eitsss, jangan salah dulu sate ini bukan lalat yang disate, melainkan daging ayam atau daging sapi/kamping yang dipotong-potong sangat kecil sehingga namanya sate lalat.
Credit

Untuk masalah rasa, jangan tanya lagi. Sudah tahu kan rasa sate Madura yang melegenda itu kurang lebih rasanya seperti itu. Maknyossss...

Pusat kuliner di Jalan Niaga biasanya beroperasi setelah maghrib, jadi kalau mau kesini malam hari saja ya soalnya kalau siang muda mudi lagi sekolah, bapak ibu pada kerja, makanya yang rame itu cuma malem karena semua masyrakat Pamekasan bebas dari aktifitas. Oke, begitu dulu cerita Masjid yang ada di kampung halamanku serta pusat kuliner yang maknyos buat para pelancong.

No comments:

Post a Comment

Yuk berkomentar :)