Menikmati Car Free Day Di Taman Bungkul Surabaya

Minggu pagi sekitar pukul 3 dini hari tepatnya sebelum adzan Shubuh, saya dan suami sudah siap-siap berangkat ke Masjid Al Falah yang ada di Jalan Raya Darmo Surabaya. Niatnya mau shalat Shubuh berjamaah dan ikut kajian pagi di Masjid itu. Alhamdulillah sampai di masjid Al Falah tepat adzan Shubuh dan suami saya langsung bersiap-siap berjamaah Shubuh begitupun dengan saya.

Sebelum melakukan jogging pagi di Car Free Day Taman Bungkul Surabaya alangkah baiknya jika saya dan suami menunaikan kewajiban sebagai umat Muslim yaitu sholat Shubuh. Bukan begitu teman-teman?

Setelah melaksanakan Sholat Subuh berjamaah, kami bersiap-siap jalan kaki. Sebelumnya kami harus mencari tempat parkir kendaraan. Jika kami memilih jalan kaki dari masjid maka kendaraan kami tetap terparkir rapi diparkiran dekat masjid. Tapi konsekwensinya, pulang dari jogging kami akan kembali ke parkiran masjid dan itu sangat jauh sedangkan kondisi kami dipastikan sudah kelelahan. Dan pada akhirnya kami memilih parkir di daerah Taman Bungkul saja.

Parkir kendaraan di Taman Bungkul sangat bervariasi. Kadang kena tarif parkir 5 ribu, kadang kena tarif parkir 10 ribu. Itupun tanpa memakai kertas parkir yang sah dari pemkot Surabaya. Kesel sih sebenarnya, alasan mereka kadang beragam. Terakhir kemarin saat CFD ke Taman Bungkul kami kena tarif parkir 10 ribu untuk kendaraan roda empat. Alasannya buat kemaslahatan warga. Bener nih pak, buat kemaslahatan warga?


Setelah itu kami langsung menuju ke Taman Bungkul Surabaya buat menghirup nafas segar, maklumlah berasa seperti kota yang sepi soalnya kan kendaraan nggak boleh lewat
sementara di sepanjang Jalan Raya Darmo sampai pukul 9 pagi nanti. Senang sekali kalau nggak ada kendaraan yang lalu lalang seperti ini.

Bebas lari-lari kecil bareng suami dan yang paling saya suka adalah menjajal berbagai kuliner murah meriah. Kuliner murah meriah mulai dari pentol, kerak telor, putu, bika, semanggi, dan masih banyak kuliner murah meriah lainnya.

Di Taman Bungkul semuanya tumpah ruah. Mulai dari bayi, anak kecil, remaja, dewasa, serta para kakek nenek semuanya kumpul menjadi satu menikmati Kota Surabaya yang lengang dari kendaraan.


Seperti biasa tolah toleh mencari kuliner yang enak, maklum perut udah laper dari tadi belum diisi. Pilihan jatuh pada pentol bumbu kacang dan otak-otak ikan. Hummm yummiii banget, apapun makanannya cucok banget dilidah dan perut saya. Secara donk, saya suka sekali makan pentol bumbu kacang.

Biasanya saya beli pentol kacang 5 ribu, dibungkus plastik dan diikat. Kemudian salah satu ujungnya saya gigit agar nyaman saat memakannya. Baru deh saya bisa menikmati pentol bumbu kacang sambil jalan kaki menikmati pagi yang indah di Jalan Raya Darmo Surabaya. Atau kalau capek saya duduk-duduk santai sambil menikmati aneka kuliner yang dijual disana.



Suami saya juga doyan camilan murah meriah, otak-otak ikan menjadi pilihannya. Beli 5 ribu sudah dapat 1 kantong plastik full. Dia comal-camil sendirian dengan otak-otak ikannya, sedangkan saya comal-camil pentol bumbu kacang. Sesekali kami saling incip-incip camilan yang kami nikmati. Ini salah satu cara kami untuk saling menikmati camilan agar tidak keluar uang lagi.

Ahahaha... saling berbagilah intinya. Menikmati otak-otak ikan dan pentol bumbu kacang sambil duduk ditrotoar jalan. Lalu lalang orang yang sedang jalan kaki menjadi pemandangan kami.




Kadang saya miris dengan mereka yang nggak mengerti akan arti buang sampah pada tempatnya. Padahal sudah jelas dan disetiap sudut Taman Bungkul sudah ada tempat sampah tapi mengapa mereka masih sempat buang sampah sembarangan. Bukannya hal seperti itu sangat mudah, tinggal cari tempat sampah dan masukkan sampah ke bak sampah yang telah disediakan.

Kalian yang mengaku peduli kebersihan yuk buang sampah pada tempatnya. Padahal di area CFD sudah disediakan tempat sampah agar para pejalan kaki bisa buang sampah pada tempat yang telah disediakan. Tapi sayang, banyak sekali yang belum sadar akan artinya kebersihan.


Spot di tengah Taman Bungkul asyik juga loh. Selain banyak muda mudi yang lagi nggak pengen diganggu, pun disana banyak sekali para penjual minuman seperti kopi, teh, dan air mineral yang lalu lalang menawarkan jualan mereka kepada para pengunjung. Pun disana anak-anak bisa main dengan aman dan harus tetap dalam pengawasan orang tua. Semuanya memang aman, karena ada Pak Satpol PP Pemkot Surabaya yang selalu wira wiri memperhatikan sekitar. Tapi lebih aman lagi jika para orang tua yang mengawasi anak-anak mereka.


Selain banyak yang jalan kaki, yang naik sepeda nggak kalah banyaknya. Binatang kesayangan pun diajak menikmati udara pagi di Taman Bungkul Surabaya. Atraksi topeng monyet tak ingin kalah dalam mencari rezeki, semua gaya dikerahkan oleh monyet malang itu. Kasihan banget sih sebenarnya kalau tau cerita si monyet. Monyet itu sebenarnya tersiksa, tuannya aja yang nggak mengerti.



Di CFD Taman Bungkul pun hewan-hewan peliharaan diajak jalan-jalan juga oleh tuannya. Salah satunya hewan berbulu putih halus lembut ini. Hewan ini jalan-jalan bersama tuannya yang sangat sayang padanya. Beruntung banget dia punya tuan yang baik. Semoga hewan-hewan lainnyapun bernasib sama seperti kamu, punya tuan yang baik.



Setelah puas jalan-jalan mengelilingi Taman Bungkul Surabaya dan berburu kuliner akhirnya saya dan suami langsung pulang kerumah. Sampai di rumah langsung tertidur karena kecapekan. Begitulah weekend saya saat bela-belain datang di acara Car Free Day Taman Bungkul Surabaya.

Salam,
Dwi Puspita


No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)