Pengalaman Nekad Beli Rumah Walau Gaji Pas-Pasan

Ah... cerita ini mengingatkan saya saat masih kuliah di Surabaya. Sebagai anak rantau yang mencari ilmu di Ibukota Jawa Timur. Punya mimpi bekerja dan punya tempat tinggal di Surabaya atau perbatasan Surabaya. Lulus kuliah yang penting kerja, dapat duit dan bisa hidup mandiri. Itu sudah prinsip saya sejak dulu. Kerja apa saja yang penting halal dan kalau bisa nyaman tempat kerjanya dan nyaman gajinya. Hahaha...


Ternyata memang bener, pada saat itu saya langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang manufacture di Gresik. Alhamdulillah, dengan sepatu pantofel dengan hak yang nggak begitu tinggi, kemeja warna putih garis-garis ungu dan tas tenteng yang kalau nggak salah harganya 60 ribu rupiah saya berangkat kerja karena telah menjadi salah satu karyawan di perusahaan itu. 

Hari kerja aktif Senin sampai dengan Jum'at, Sabtu dan Minggu adalah waktunya saya leha-leha, haha hihi bersama teman-teman, seperti shopping dan kuliner. 


Setahun penuh drama bekerja di perusahaan swasta tersebut akhirnya saya resign. Selain jarak kos-kosan jauh dengan tempat kerja pun karena banyak masalah internal. Kos-kosan ke tempat kerja saya dulu jaraknya 30 km dan perjalanan ke tempat kerja saya tempuh selama 1,5 jam perjalanan kadang sampai 2 jam. Ditanya capek, pasti saya akan jawab capek sekali. Dijalani dengan penuh keikhlasan dan akhirnya saya menemukan tempat kerja yang baru dan nyaman banget. Walau gajinya pas-pasan setidaknya saya nyaman dikelilingi teman yang begitu baik dan pengertian.

Dengan keberanian diripun dan mengharap ridha Allah dan ortu akhirnya saya pun memberanikan diri untuk rela dipersunting laki-laki yang saya cintai yang mampu membimbing saya di jalan Allah. Akhirnya dengan penuh lika-liku pun resepsi digelar di rumah ortu dan kami pun berbahagia akhirnya sah menjadi suami istri.

Setelah sah menjadi suami istri, kami pun kembali lagi ke Surabaya dengan oleh-oleh do'a restu keluarga, sahabat, tetangga, dan teman-teman lainnya. Kami mencari tempat kos khusus pasutri untuk sementara waktu dan Alhamdulillah mendapatkannya dengan harga sewa 600 ribu tiap bulannya.

Setiap hari kami berangkat kerja bersama, berangkat pagi dan sampai kos-kosan tengah malam. Semua dilalui dengan rasa bahagia, bersyukur, dan pastinya saling memberi semangat satu sama lain.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan dalam waktu 3 bulan akhirnya kami pindah ke rumah baru. Yah, rumah baru...


Cerita yang sangat panjang dalam mendapatkan rumah baru, apalagi saat membayar DP-nya. Kepala saya pusing karena nggak dapat pinjaman. Akhirnya kami berani gadai BPKB mobil milik sepupu suami disalah satu Perusahaan Fintech Online, demi mendapatkan uang cash yang harus dibayarkan untuk DP rumah pada waktu itu juga.


Kenapa kami bela-belain untuk cari pinjaman? karena pada waktu itu DP rumah yang kami incar lagi promo. Jadi mau nggak mau kami harus mencari duit cash secepatnya. Kami termasuk nekad beli rumah, la wong gaji kami aja pas-pasan. Kalau dibuat bayar tiap bulannya habislah gaji kita semua. Hahaha... makan apa kita nanti. Selain nggak bisa makan pun kami nggak bisa shopping, travelling, kuliner, dan lainnya.

Tapi demi mendapatkan tempat tinggal yang layak kami pun harus bisa menahan nafsu duniawi untuk sementara waktu. Kami tidak tinggal diam, bukan berarti karena gaji yang pas-pasan itu kami hanya terpaku pada gaji tiap bulannya. Dengan keterampilan yang kami miliki akhirnya kami punya side job.

Suami saya mendapatkan proyek mendesign kapal sedangkan saya ngelesi privat anak SD, SMP, SMA. Alhamdulillah... tiap bulannya cukup. Cukup beli beras, lauk pauk, bayar listrik, bayar air, dan pastinya haha hihi bareng suami.

Perjanjianpun saling kami sepakati, jadi cicilan rumah tiap bulannya suami yang bayar sedangkan saya bayar cicilan gadai BPKB mobil tersebut. Alhamdulillah dalam waktu 3 tahun selesai juga bayar cicilan BPKB mobil. Senangnya... 


Bahagia pun menyelimuti keluarga kami setelah 3 tahun tinggal di rumah sendiri, hadirnya seorang anak menjadi pelengkap kebahagian kami. Yah, 3 tahun menanti momongan akhirnya rezeki yang sangat besar datang juga. Bersyukur banget, semuanya bisa dilewati dengan penuh kenangan, pelajaran, dan cerita yang sulit dilupakan. Terima kasih atas perjuangan ini suami, bersamamu akhirnya kita bisa melewati itu semua.


Salam,
Dwi Puspita

4 comments:

  1. Alhamdulillah ya setelah melalui perjalanan yang cukup menguras pengorbanan akhirnya rumah idaman jadi juga kesampaian. Selamat... Sehat selalu bersama keluarganya. Amin

    ReplyDelete
  2. Pengalamannya mbak dwi jadi masukan kepadaku yang insyaAllah sebentar lagi berumah tangga. Kesabaran dan tawakal jadi kunci utamanya, jadi bisa menikmati hasil yang MasyaAllah indahnya

    ReplyDelete
  3. keren banget mbak ceritanya. saya masih single, keja di manufaktur di surabaya, dan juga ada side job kayak mbak, ngelesin anak sekolah matematika. insayaloh nnti menikah tetep kerjain side job itu selama banyak yang butuh jasa kita, alhamdulillha.

    cerita mbak menginsipirasi sekali

    ReplyDelete
  4. I feel you mba. I FEEL YOUUUUU hahahaha.
    Emang sih kadang beli rumah yang bakal dihuni harus "agak maksa". Tapi akan worth it di masa mendatang

    ReplyDelete

Yuk berkomentar :)