Hal Yang Saya Sesalkan Bulan Ini

Menyesal, pasti sebagian orang pernah melakukannya. Yah termasuk saya. Namun menyesal dan terus berlarut-larut nggak baik juga loh. Mendingan kita hempaskan manjah dan berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pernah menyesal? Apa saja sih?

Tiga bulan yang lalu saya sangat menyesal karena tidak bisa membantu teman untuk pinjam uang. Tapi saya hempas manjah karena saya yakin teman saya bakalan nggak ngembaliin duit saya kalau jadi saya pinjamkan ke dia. Ampun...

Dua bulan yang lalu saya menyesal karena tidak bisa menolong seorang nenek yang akan menyeberang jalan. Saya tidak bisa bantu  si nenek karena waktu itu saya naik ojol. Mosok sih saya bilang sama mas ojolnya suruh berhenti buat ngebantuin nenek dimana posisi mas ojol lagi ngebut. Wkwkwk...

Belum sampai sebulan, saya sangat menyesal karena tidak bisa foto-foto di bawah bunga tabebuya yang sedang bermekaran dan satu persatu mulai gugur. Duh... ini sih menyesal banget ya...

Nggak juga, masalah menyesal saya akan sedikit cerita tentang masalah keluarga saya, lebih tepatnya cerita antara saya dan suami sebelum memutuskan bersama dalam janji suci.


Saya dan suami menjalani hubungan ini dengan keterbukaan. Semuanya saya ceritakan. Hape pun bukan menjadi milik pribadi, kamipun kadang saling membaca pesan pribadi dengan cara bertukar hape. Saya serba terbuka pun dengan suami saya. Sebelum menikah kamipun saling terbuka dan saling bercerita kekurangan dan kelebihan kami. Kami tak ingin nantinya ada sesuatu yang tiba-tiba baru diketahui pasangan dan menyebabkan pertengkaran. BIG NO. Jadi, jangan pernah ada kata menyesal dalam suatu hubungan yang sudah disatukan dengan pernikahan.

Hal yang saya sesalkan selama ini tapi nggak begitu menyesal amat adalah : 

Pertama, coba dulu setelah saya melahirkan dan bisa gerak aktif saya berolahraga secara teratur. Nggak bakalan deh ada cerita perut bergelambir dan baju ukuran XL. Coba saya rutin jalan pagi dan banyak gerak mulai dari 3 tahun yang lalu. Mungkin berat badan nggak akan sesulit ini turunnya. Menyesal? Yah.... bisa dikata iya dan bisa dikata tidak. Karena tak ada kata terlambat. Hahaha...

Kedua, coba dari dulu saya rajin makan-makanan sehat dan atur pola makan. Mungkin saya bisa memiliki berat badan yang ideal. Tidak seperti sekarang, melihat makanan enak aja jadi pengen. Akhirnya kalau nggak beli ya bikin sendiri kemudian dimakan sampai habis. Setelah itu menyesal dan janji nggak akan makan lagi. Nyatanya tetap aja makan lagi. Menyesal? Hmmm... nggak karena mari kita mulai sekarang hidup sehatnya. Hahaha...


Ketiga, bulan ini sebenarnya saya menyesal pake banget. Bukan bulan ini sih. Akhir November bulan kemarin disaat bunga tabebuya mulai bermekaran di jalanan Kota Surabaya mengapa saya nggak langsung ke tekape tempat bunga-bunga itu bermekaran. Hiks... sedih banget sih, harus nunggu berbulan-bulan lagi.


Beneran deh, Surabaya rasa Jepang kalau melihat gambar-gambar kece di instagram. Tapi... Alhamdulillah di gang masuk perumahan berjejeran pohon tabebuya dengan bunga warna kuningnya. Hal ini sungguh membuat saya bahagia melihat bunga ini mekar dan berguguran.




Sempat saya abadikan saat anak saya main dengan bunga tabebuya. Mainnya juga dengan cara menghitung bunga tabebuya yang berguguran. Dengan cara ini dia belajar berhitung angka 1-10 dengan mudah dan pastinya dengan happy.

Jangankan anak saya yang happy, saya saja happy melihat indahya bunga tabebuya ini. Yuk tonton keseruan anak saya saat belajar berhitung dengan media bunga tabebuya ini.


Ya sudah, itu dulu cuap-cuap saya. Semoga nggak ada kata menyesal lagi. Mari kita perbaiki diri dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi terutama dalam masalah hubungan. Baik hubungan suami istri, pertemanan, persahabatan, dan keluarga.

Salam,
Dwi Puspita

No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)