Baju Lebaran, Pentingkah?

Lebaran identik dengan baru. Hati baru, baju baru, mukena baru, sepatu baru, sandal baru, jilbab baru, dan masih banyak lainnya. Boleh semua baru asalkan jangan cari suami atau istri baru. Mungkin kalau pacar baru boleh kali ya. Hahaha...



Hati baru yang utama, karena makna dari Lebaran atau yang dikenal dengan Idul Fitri adalah kembali suci. Saling meminta maaf atas segala khilaf yang pernah dilakukan selama setahun lalu. Namun setelah itu bikin khilaf lagi dan meminta maaf lagi Idul Fitri tahun depan. Yah.... mbuleti namanya.

Jujur, Idul Fitri tahun ini saya nggak pengen banget baju baru. Soalnya lemari saya sudah penuh sesak dengan baju-baju yang jarang dipakai. Baju panjang alias gamis yang hanya dipakai setahun sekali oleh saya atau jika ada pengajian di komplek perumahan. Saya lebih suka pakai kaos lengan panjang dan rok jeans model casual gituh. Tapi, nggak mungkin lah Hari Raya pakai baju casual gitu. Apa kate orang... apa kate tetangga dan apa kate keluarga.



Baju lama akan saya pakai kembali, biarlah dipakai 3 kali Lebaran yang penting saya sudah bisa membahagiakan keluarga saya terutama anak saya dengan baju barunya. Baju baru anak saya adalah baju koko anak yang akan dipakainya saat sholat Idul Fitri.


Haruskah saya sedih karena nggak pakai baju baru di Hari Raya?

Tidak, saya tidak sedih. Saya malah sedih kalau ada yang nyinyirin saya baju Lebarannya itu-itu aja. Padahal kebahagian tiap orang beda-beda, saya tidak merasa butuh baju baru yang saya inginkan adalah saya bisa staycation setelah Lebaran untuk nyenengin diri setelah mudik. Saya yakin saya akan dicerca banyak pertanyaan, mulai dari kapan nambah anak, kok gendutan, kok nggak kerja aja dan anaknya titipkan ke neneknya. Brbrbrbr.... tak semudah itu Ferguso.


Saya nggak sedih karena nggak pakai baju Lebaran, saya sedih kalau orang-orang disekitar saya masih sibuk ngurusi hidup irang lain. Bukankah memikirkan diri sendiri jauh lebih berfaedah, misal nih : sudahkan saya berbagi pada si A, si B, si C, si D, si E, dan bla bla bla.

Baju baru di hari Lebaran sebenarnya bukan tujuan utama saya dipakai saat Hari Raya. Yang bikin saya memutar otak apakah duit yang saya bawa ke kampung halaman nantinya bisa terbagi sesuai jatah semestinya ke sanak saudara. Walau sedikit setidaknya saya sudah ikhlas memberikannya dan sesuai kemampuan yang saya miliki.

Intinya, Lebaran tahun ini (1440 H) fix saya nggak pakai baju Lebaran. Baju Lebaran yang saya pakai adalah baju Lebaran sisa Lebaran beberapa tahun lalu yang masih muat dan masih tampak baru karena memang sekali dua kali saya pakai. 

Semoga Hari Raya Idul Fitri ini saya bisa sholat Idul Fitri dengan memakai mukena baru. Tahun-tahun lalu dan sudah beberapa kali Lebaran saya nggak pernah sholat Idul Fitri. Semoga tahun ini dipermudah semuanya. Amin...

Salam,
Dwi Puspita

No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)