Apa Itu Skizofrenia?

Momen berkumpul bagi keluarga saya adalah di waktu Maghrib hingga sebelum tidur. Biasanya suami dan anak lanang saya akan ke Masjid untuk sholat berjamaah sedangkan saya memilih sholat dirumah. Nah, biasanya diantara Maghrib dan Isya' ini menjadi waktu berkumpul seperti ngaji, ngobrol, dan nonton TV bareng. Malam ini pun saya dan suami membahas Skizofrenia dan ciri-cirinya.



Iseng-iseng sebelum ngaji saya mulai berhalu ria. Ngebayangin sesuatu yang terlalu menghayal tingkat dewa. Naik private jet layaknya inces. Hahaha... suami pun tak kuasa menahan tawanya karena saya terlalu halu atau berhalusinasi. Momen seperti inilah yang bisa mengakrabkan kami, tertawa bareng walau curcolannya kadang nggak masuk akal.

Ngomongin berhalusinasi ternyata halusinasi ini bisa dikatakan orang tersebut mengidap skizofrenia. Skizofrenia ini bisa diderita siapa saja loh. Baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki tingkat ke haluan tinggi seperti saya. Jadi teman-teman wajib perhatikan kehaluan teman-teman sendiri yang sangat tinggi dan nggak bisa diatasi. Alhamdulillah, kehaluan saya masih bisa diatasi karena saya sadar saya hanya berhalusinasi beberapa detik saja untuk nyenengin diri.




Kalau menurut beberapa artikel yang saya baca, Skizofrenia ini bisa ditandai dengan pemikiran atau pengalaman yang nampak tidak berhubungan dengan kenyataan, ucapan atau perilaku yang tidak teratur, dan penurunan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari. 

Alhamdulillah perilaku saya teratur dan itu artinya saya nggak skizofrenia. Karena jika memang menderita skizofrenia maka akan kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengingat sesuatu loh dan saya masih bisa mengingat sesuatu.

Terus saya tanya saya suami, apakah saya masih bisa berkonsentrasi. Dengan mantap suami saya pun, ya masih bisa lah, buktinya diajak bicara kita masih nyambung kok. Dan kami pun tertawa sambil memperhatikan anak kami yang asyik bermain kereta api mainan yang kami belikan beberapa hari lalu di toko mainan deket rumah.

Untuk perilaku/tingkah dari penderita skizofernia ini macam-macam loh. Mulai dari menyakiti diri sendiri, sikap tidak ramah, isolasi sosial, perilaku tidak teratur, agitasi, berperilaku agresif, terlalu bersemangat,  dan kehilangan pengendalian. Contohnya nih, orang yang menyayat pergelangan tangannya sendir adalah contoh dari menyakiti diri sendiri.

Saya dan suami saling berpandangan dan tertawa bareng. Alhamdulillah ya kita nggak punya tanda-tanda seperti itu. Jadi kehaluan saya yang tidak ngebayangin ini itu bukan skizofrenia. Beda banget... karena walaupun menghayal saya sadar kok dengan keterbatasan yang saya miliki dan segera membuang kehaluan itu. Hidup normal dan apa adanya jauh lebih baik.

Dari segi kognitif, seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami gangguan pikiran, lambat dalam beraktivitas, amnesia, disorientasi, hilang ingatan, kebingungan mental, keyakinan bahwa kejadian biasa memiliki arti khusus dan pribadi, keyakinan bahwa pikiran bukan milik satu orang,dan merasa dia lebih hebat dari yang lainnya.

Ciri lainnya seorang menderita skizofrenia adalah dia akan kegelisahan, kehilangan minat atau kesenangan melakukan aktivitas dan hobinya, suka marah-marah nggak jelas, merasa terlepas dari diri sendiri, dan respons emosional yang tidak sesuai. Psikolognya juga akan terganngu seperti paranoid, berhalusinasi, depresi, ketakutan saat mendengar suara-suara.

Selain itu kita bisa memperhatikan cara bicaranya yang cepat, bicara berbelit-belit, dan sering ngawur. Jadi teman-teman juga bisa memperhatikan sekitar, jika bertemu dengan orang yang bicaranya ngawur bisa saja dia mengidap skizofrenia.

Dan akhirnya obrolan tentang masalah skizofrenia malam ini berakhir setelah kami mendengar adzan Isya' berkumandang. Obrolan yang sangat berfaedah dan family time yang hampir setiap hari membahas apa saja yang menjadi obrolan di keluarga kami.


Salam,
Dwi Puspita

No comments:

Post a comment

Yuk berkomentar :)